Sunday, March 27, 2016

Biaya Menikah Tanpa Resepsi

Dari beberapa entry di blog ini, saya lumayan kaget dengan banyaknya jumlah pembaca yang sudah mengunjungi pos saya tentang menikah tanpa resepsi. Sejujurnya awalnya saya GR karena merasa dikepoi, tapi lama-lama baru sadar kalo bulan-bulan ini ternyata memang lagi musim kawinan hehehe. Seperti saya dulu, mungkin banyak yang sedang menjajaki kemungkinan untuk melangsungkan pernikahan dengan hanya memenuhi rukun-rukun nikah secara agama tanpa berniat menjalani panjang dan melelahkannya prosesi adat yang lain

Pernikahan sering jadi agenda mahal memang. Dari pengamatan bertahun-tahun, saya tahu bahwa  sebuah pesta perkawinan yang dianggap lumrah untuk saat ini akan menelan biaya setara dengan harga sedan non-low cost baru sebangsa Yaris atau Vios. Jika kamu punya privilege untuk beranggapan bahwa itu bukanlah nominal yang besar, alhamdulillah dan selamat! Saya ikut bahagia karena kamu diberkahi pekerjaan yang sangat bagus. Namun jika kamu seperti kami ini yang masih pelan-pelan menabung demi hidup yang lebih baik -- tanpa bermaksud mengecilkan rasa syukur -- maka jumlah itu hmmm mayan gede juga yak hehehehe.

Terlepas dari orangtua-orangtua yang mapan dan gigih ingin membiayai, saya pun paham bahwa di usia sepantaran kita ini, keinginan untuk berdikari memang meluap-luap. No fancy wedding party, please. Yes I've been there. Tapi kita gak usah lah berasumsi tentang alasan orang yang hanya ingin menikah dengan akad saja tanpa resepsi. Selama tidak ada yang benjut dan kesambit, saya rasa perlu kita kembalikan semua keputusan untuk menjalankan apa yang dianggap cukup dan baik kepada pihak-pihak yang menjalankannya. Gak perlu terlalu kepo dan berprasangka. So, let me shed some light bagi jiwa-jiwa yang tersesat di Google dalam mencari tahu berapa biaya yang harus keluar untuk menikah tanpa resepsi hohohooo.

Baca juga
1. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 1
2. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 2
3. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 3
4. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 4
5. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 5


Hal terpenting untuk melangsungkan pernikahan dalam Islam sebetulnya cuman calon pengantin, wali pengantin perempuan, saksi, mas kawin plus ijab. Supaya diakui negara, ya kudu dicatatkan ke KUA. Boleh aja sih gak dicatet ke KUA, cuman nanti kalo ada ada anak yang lahir, emang dikau siap lahir-batin punya anak yang akta lahirnya cuman "anak ibu" gak ada "anak bapak"nya? Nah selain yang udah disebut, sisanya mah tempelan. Perkara katering, undangan, sound system bla bla bla itu adalah ad-ons.

Disclaimer: Sesungguhnya biaya akad kami ditanggung 100% oleh orangtua saya, jadi ya mohon maaf kalo saya nggak ngasih jumlah eksaknya. Selain karena gak elok, aslinya saya juga gak inget-inget banget persisnya hehe maafkan.

Oke yuk kita mulai dari yang paling krusial, yaitu si..........

1. KUA (Rp 0-600.000) + biaya penghulu (seikhlasnya)

Pencatatan pernikahan di KUA sendiri sebetulnya gratis dengan syarat ijab kabulnya dilaksanakan di gedung KUA setempat. Kalo kita berharap penghulunya datang ke venue acara, kita wajib bayar 600ribu rupiah melalui bank yang ditunjuk. Saya pilih ijab kabul di rumah aja lah biar kayak sinetron. Konsekuensinya, selain bayar 600ribu kita kasih duit juga lah sama penghulunya. Itu semacam konvensi tidak tertulis gitu.

2. Suntik tetanus (20.000-100.000) 

Pemerintah Indonesia mewajibkan kita melaksanakan imunisasi tetanus mandiri di puskesmas/RS dan melampirkan struknya sebagai salah satu dokumen persyaratan nikah ke KUA. Berhubung saya agak apatis sama yang namanya imunisasi apapun, saya gak melakukan persyaratan bagian itu. Teknisnya gak etis kalo saya beberkan di sini, tapi saya punya struk foto thoraks sebagai persyaratan visa dari RS Mitra Kemayoran dan kalian tahulah anak jaman sekarang pada pinter Photoshop :)

3. Katering (sejutaan sampai puluhan jutaan)

Nah ini adalah bagian yang saya paling gak bisa ngasih angka pasti karena standar setiap orang pasti berbeda. Soal makanan untuk akad banyak opsinya: bisa masak sendiri, bisa pesan katering, bisa juga kombo masak sendiri + katering.

Untuk keperluan sharing saja: waktu itu ibu saya memutuskan untuk pakai katering Sonokembang 150 porsi plus beberapa menu termasuk jajanan untuk kotak-kotak yang dibawa tamu pulang yang dibeli terpisah di penyedia katering lain. Jujur yah, katering Sonokembang ini mahal dan beberapa rasa menunya gak masuk akal. Kami memutuskan untuk tetap menyewa dia karena mbak-mbak marketingnya baik, ada food testing dan yang paling penting, semua peralatan makan dan panci-panci penyajiannya disediakan oleh mereka.

4. Sound system (500.000-2000.000)
Tergantung kualitas dan ukuran sound systemnya, biaya sewanya pun bervariasi. Karena saya gak akad di gedung, waktu itu kalo gak salah sih kami cuman menyewa dua buah pengeras suara dan tetek bengeknya yang gak lebih mahal dari sejuta. Kalo venue nikahannya lebih besar, jelas biaya akan semakin mahal. Kabar baiknya, biasanya ada vendor-vendor persewaan tenda yang menggratisi biaya sound system jika kalian menyewa tenda dengan nominal tertentu.

5. Tenda dan Kursi (jutaan sampai puluhan juta)
Tenda ini juga hitungannya per meter, jadi biayanya bisa bervariasi banget. Untuk keperluan sharing aja, waktu itu kami pakai tenda biasa dari vendor Sarangan dengan ukuran space di mana tenda berdiri sekitar 3 x 15 meter dengan biaya yang gak lebih dari 7 juta rupiah. Izin curcol ya... Sebetulnya waktu itu bisa saja tendanya dimajukan 3.5 meter lagi hingga menutupi seluruh badan jalan di depan rumah orangtua saya. Implikasinya, kendaraan gak akan bisa lewat. Masalahnya adalah 6 bulan sebelumnya kami pernah dapat kesulitan besar gara-gara orang kawinan yang menutup jalan kayak gitu. Jadi waktu itu seluruh kota lagi macet banget dan suami saya keburu harus berangkat ke Bali, eh sempet aja orang nutup jalan poros demi kawinan doang. Suami saya hampir batal berangkat ke Bali akibat kejadian itu, sampe gak sadar saya jadi nyumpahin mantennya yang enggak-enggak. Okelah jadi itu pelajaran untuk kami supaya kalo nikahan gak usahlah pake acara nyetop jalan, biar gak disumpahin yang enggak-enggak sama orang yang terdholimi gara-gara perjalanannya terganggu.

6. Undangan (100.000 - 500.000)
Undangan adalah bagian dari pengeluaran nikah tanpa resepsi yang paling bisa ditekan. Bahkan jika diserahkan ke tangan profesional pun, harganya gak akan terlalu mahal (asal bukan karton mewah kayak undangan resepsi ya). Awalnya udah niat ngasih ke mas-mas percetakan aja karena estimasi biayanya pun gak terlalu gede. Tapi setelah mencermati isi undangan jaman sekarang yang pada gak koheren dan gak sesuai EYD, saya kok jadi geregetan ya? Mana isi satu undangan dan lainnya itu plek-ketiplek dan mas-mas percetakannya methentheng ae katanya gakpapa isinya kayak gitu karena gak akan ada orang yang repot-repot memperhatikan. Lah ini guweh memperhatikan! Salah berjamaah kayak gitu yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk mengetik sendiri isi undangan akad saya, alih-alih nyontek undangan lain. Jadi ya... undangan saya akhirnya hanya berupa HVS warna yang diperbanyak di mas-mas fotokopian.

7. Seserahan dan Mahar (tidak bisa diestimasi)
Soal seserahan, saya udah pernah cerita panjang kali lebar di sini. Soal mahar saya juga pernah cerita di sini. Intinya, saya gak mau mewah-mewahan di departemen seserahan karena seserahan itu bukan rukun nikah. Jika harus membaguskan sesuatu, kami akan pilih mahar karena mahar adalah salah satu rukun nikah. Hadith mengenai wanita yang paling baik adalah wanita yang maharnya paling mudah tidak berani kami tafsirkan sebagai dispensasi memurah-murahkan mas kawin karena saat itu kondisi kami mempu untuk mengusahakan sesuatu yang lebih baik dari sekedar murah. Cuman yah, pemikiran orang itu beda-beda. Saya gak perlu meyakinkan orang agar ikut meyakini apa yang saya yakini. Jadi soal seserahan dan mahar, biarlah menjadi urusan yang berkepentingan aja yaa :)

8. Bunga dan Dekorasi (5000.000-10.000.000 tapi saya gak pake)

Kembali lagi ke tujuan menikah tanpa resepsi: menghindari sesuatu yang terlalu fancy. Entahlah kenapa saya menganggap waktu itu intuk menyewa orang buat urusan bunga dan dekorasi malah mengkhianati (@$^%&^&^%**) tujuan tersebut. Saya bersama ibu dan tante saya udah sempat nego sama pemilik vendor dekorasi yang berbasis di Sawojajar yang lumayan populer di Malang.

Ibu saya udah oke dengan harga 7 juta untuk tembok berukuran sekitar 3x4 meter tapi saya masih mikir-mikir. Kembangnya warna apa? Mau ditaro di mana? Kalo kawinannya udah kelar terus kembangnya buat apa? Iya, saya emang manten kakean pikiran. Ujung-ujungnya saya batalin sendiri deal sama vendornya and I ended up having a wedding without even a flower bouquet. 


9. Baju Pengantin (2000.000-3.000.000)

Saya suka mikirin bahwa saya akan mendesain sendiri baju pengantin saya waktu itu. Makanya, di saat dekor aja saya batalkan sepihak, khusus baju manten kudu jalan terus. Bahan bajunya saya beli di toko kain Citra di Embong Arab. For the sake of sharing, harga brokat untuk atasannya 900ribu, kain glitternya 1.2 juta, bahan tulle nya 120ribu. Saya inget persis semua harganya karena emang semua saya pilih sendiri.

Dengan waktu semepet itu, kami berhasil menemukan penjahit bagus di belakang Unisma yang ternyata dulunya bertetangga sama nenek maternal saya. Gaunnya selesai dalam 7 hari setelah beberapa revisi minor dengan biaya 700ribu rupiah. Jelas bukan gaun pengantin paling mewah dan cantik yang pernah kalian lihat, tapi saya suka sekali gaun ini soale ini bukan gaun sewaan yang suka bikin saya bergidik tiap mikirin bagian keteknya hihihi.


10. Perias Pengantin (1000.000-gak terbatas)

Soal riasan, saya juga gak terlalu picky waktu itu karena muka saya alhamdulillah gak jelek-jelek banget jadi gak banyak yang kudu ditambal hahahaha. Becanda ah. Waktu itu sejatinya udah terlalu mepet untuk ngurusi soal riasan, jadi basically saya akan terima usul siapapun yang mau nganter saya langsung ke periasnya.

Tante saya dengan baiknya nganter saya ke Bu Ida yang ternyata rumahnya cuman selemparan jumroh dari kantor ibu saya di Kelurahan Jatimulyo. Biayanya waktu itu murah aja kok, 1.5 juta Edit: sepertinya waktu itu cuman 1.25 juta setelah diinget-inget lagi . Itu termasuk baju suami untuk suami saya yang ajaibnya matching anet sama gaun pengantin saya dan melati-melatian mistis yang dipake buat ngalungin suami saya pas pertama dateng ke rumah gitu.


Fiuuuuhh panjang kali. Ya pokoknya di sekitaran itu deh ya biaya nikah tanpa resepsi: bisa kurang banyak atau bahkan lebih banyak. Intinya sih tergantung budget dan keperluan aja. Gak perlu memaksakan hanya karena khawatir dikometarin orang. Saya aja cuek bebek nungging walaupun banyak dikomentarin gara-gara kawin gak resepsian hahahaha... Bodo amet lah. Hidup mah gak usah kebanyakan gengsi daripada sok-sok nurutin gengsi ujungnya nyungsep. Anyway, selamat ya buat yang pada mau nikahan! Gak kerasa udah musim kawin lagi aja tahun ini...

Monday, March 21, 2016

I'm Back

Sungguh jika seandainya kemarin saya tidak membaca pesan seseorang melalui instagram saya, saya juga nggak mau lagi nulis di blog. Pengalaman mengajariku dengan cara yang agak kurang santun [misalnya dari celoteh teman-teman di grup chatting] bahwa orang yang agak kurang banyak bertindak di kehidupan nyata tapi banyak bicara di dunia maya biasanya berakhir jadi bahan olok-olok massal. Makanya senyampang masih belum jadi apa-apa, niat saya awalnya mau diam-diam saja hidup underground ketimbang jadi begini nih...


 
Setelah kembali ke Malang, serentetan kejadian tiba-tiba gak memungkinkan saya untuk aktif di dunia maya. Pertama, nomor IM3 saya kedaluarsa karena gak pernah diisi ulang selama saya ada di luar negeri. Padahal itu nomor kesayangan; angkanya sedikit dan mudah diingat. Matinya nomor ini memicu kesialan nomor dua, yaitu beberapa akun sosial media yang menolak dibuka karena ternyata diset dengan verifikasi nomor ponsel luar negeri saya yang barang tentu tidak aktif di Indonesia. Ketiga, hape renta saya yang sudah terseok selama 5 tahun akhirnya menemui ajal juga. [Janganlah terlalu risau, sebab benda mati pun punya ajal layaknya ajal manusia] Memang bukan secara harafiah mati dengan layar hitam, tapi memorinya sudah gak sanggup lagi menampung pembaharuan aplikasi apapun dari Google Play. Praktis, bahkan Whatsapp dan Opera pun terpaksa saya copot. Sekarang mana bisa saya berhubungan dengan dunia luar? Saya bahkan belum sempat berpamitan dengan ibu-ibu di Geraldton perihal kembalinya kami ke Indonesia dan itu bikin saya sedih.

Yang usul agar saya beli ponsel baru sudah semua saya kecewakan. Gak elok beli barang baru sementara kondisi masih begini. Hitung-hitung ini tirakat; hidup seolah primitif lagi tanpa adanya ponsel. Kalo ada yang pengen tahu gimana rasanya hidup tanpa pongsel, yuk sini Dek Tia kasih tahu bahwa rasanya persis martabak rasa matcha...

...cuman tanpa matcha; juga tanpa martabaknya.

Dan sekalian saya ungkap sedikit fakta baru bahwasanya buka instagram dari laptop itu bisa dianalogikan seperti mengayuh sepeda statis: you capek genjot but you gak akan pergi kemana-mana.

Tapi saya harus terus bikin pos. Syahdan, suatu ketika di dekat rumah nenek maternal saya, sepupu dari suami adik perempuan ibu saya [yang gak punya koneksi media sosial dengan saya dalam bentuk apapun] menyapa saya dengan "Halo Tia, sudah di Malang ya? Kapan isi lagi? Aku ngikuti blogmu lo." which makes it safe to assume that I've been drawing wrong attention from wrong target audience.

Hehehehe

Sisi baiknya adalah blog keluh kesah gak bertema ini dibaca oleh banyak sekali orang, termasuk beberapa perempuan baik yang tidak mengenal saya, namun menyempatkan waktu menyapa saya di instagram [@amaliasardjono], dan dengan baik hatinya mengabari saya bahwa mereka membaca tulisan-tulisan saya dari platform ini. Dan itu mengharukan. Knowing there are people who actually read your pieces of thought and enjoy it is mengharukan, tau nggak.

Apalagi saya juga menikmati waktu ketika saya menulis. Kadang, dalam pikiran yang liar ini, saya berpikir MUNGKIN... mungkin saya bisa membawa sedikit perubahan lewat tulisan-tulisan ini. Mungkin, suatu saat... ketika saya berhenti berkeluh kesah di sini dan menulis yang positif-positif... mungkin saya bisa membuat sesuatu yang baik dari yang sebelumnya kurang baik. Mungkin ada setitik kalimat saya yang membuat orang berubah pikiran dan dapet inspirasi. Mungkin. Namanya juga berandai-andai.

So,
pembaca-pembacaku yang budiman, baik yang sudah kuduga maupun yang tidak kuduga, yang langganan baca maupun yang one night stand, sempatkanlah buang-buang waktu barang sebentar di sini because Dek Tia is back [dengan keluhan-keluhan dan pikiran yang seringnya tidak runut] karena kaliaaan...

[sambil dadah-dadah dengan girang berasa beken] [padahal gak]

Monday, September 28, 2015

You're right Australia

Orang Australia sering banget minta maaf.

Sebagai orang Indonesia saya terkejut. Bukannya saya mau bilang bahwa orang Indonesia itu jarang minta maaf, tapi serius deh, orang Ostrali betul-betul mengucapkan sorry untuk banyak hal. Dari salah yang betul-betul salah (apalah) kayak gak sengaja nubruk orang pake troli belanja di supermarket, sampe salah-salah yang sebetulnya gak bisa dibilang salah juga, rasanya gak afdol kalo gak bilang "Sorry". Bahkan, seandainya ada orang yang mau lewat terus bilang excuse me, kita juga wajib jawab itu pake "oh, sorry". Saya udah denger banyak banget sorry di semua tempat. Dari pelanggan restoran yang minta diambilin kecap asin sampe kasir supermarket berwajah Asia+bule yang gak sengaja melihat pricetag jaket saya yang belum dicopot (ngggggg.....)

Yang unik dari sebuah sorry mungkin bukan sorry nya, tapi responnya. Sebagaimana keunikan down under lainnya, cara orang menjawab sorry di sini beda sekali sama apa yang sudah kita pelajari di sekolah/kampus/buku/televisi.

It's fine
It's ok
It's alright
Don't worry about that

Tapi bukan: bukan itu semua.

Di sini mereka akan menjawab "No, you're right".

Awalnya saya pikir mereka ngomong "You're alright" sebagaimana cara orang Inggris merespon permintaan maaf (coba baca ini). Eh tapi setelah saya dengarkan dengan seksama (gak cuman dengerin sih, saya kan bolot. Saya juga baca artikel ini), ternyata emang bener you're right. Entah yang ngomong gak bener-bener salah atau emang guilty AF, jawaban umum untuk sebuah kata maaf adalah "you're right".

Saya juga denger beberapa variasi sih, sebangsa "don't worry" atau "nah, it's fine", tapi itu jaraaang banget. Malah mungkin cuman dua variasi itu yang saya denger sejauh ini. Mana dua-duanya diucapkan oleh teman saya yang orang Tiongkok dan bahasa Inggris bukanlah bahasa ibu mereka. Jadi ya gitu deh, lama-lama saya jadi ikut-ikutan juga ngomong you're right kalo dimintain maaf sama orang.

Mungkin agak aneh ya bagi kita untuk mendengar bahwa ucapan minta maaf direspon dengan "Ah gak kok, kamu bener." Di mana-mana kalo ada yang minta maaf ya direstui permintaan maafnya hehehe. Tapi ya siapalah kita untuk menilai? Semua bahasa emang bersifat suka-suka aja. Lagipula, bahasa Inggris bukan bahasa pertama kita juga, ngapain juga kan kita mengkritisi cara penuturnya berbicara. Ibaratnya nih, masa kita mau dibilang aneh sama bule gara-gara kalo ada yang bilang "terima kasih", respon kita cuman diem cengar-cengir? (true story, sering terjadi kalo saya bilang makasih ke embak-embak kasir tempat makan di Malang).

Lah makin panjang dan gak jelas aja ya pos ini. Oh.. I'm sorry for this.
(No, you're right)

Monday, September 21, 2015

Menikah Tanpa Resepsi

Baca juga dalam serial nikahan ini:
Cerita Tentang Seserahan
Cerita Tentang Mahar
Biaya Menikah Tanpa Resepsi

D I E D I T  P A D A  1  M E I  2 0 1 6:

Gak nyangka ternyata pos ini sudah dibaca ribuan kali sejak pertama ditulis pada bulan September tahun lalu. Entah kenapa, ternyata cukup banyak orang yang memasukkan kata kunci "menikah tanpa resepsi" dan sejenisnya di Google dan akhirnya terjebak di blog ini :) Pos ini sebetulnya cuman bertujuan sebagai klarifikasi berkedok iseng karena waktu itu saya dan suami saya menikah pada 14 April 2015 di Malang dan lusanya kami sudah makan siang di Perth. Beberapa minggu setelahnya ibu saya menghubungi saya dengan gemes-gemes geram karena beberapa orang kenalannya dengan frontal maupun pake kode mengira pernikahan kami yang (bagi mereka) seperti tergesa-gesa dilatarbelakangi adanya KECELAKAAN yang mengharuskan saya SEMBUNYI dari khalayak ramai dengan modus seolah-olah saya sedang ada di luar negeri. Bahkan baru beberapa belas minggu kami menikah, ibu saya sudah ditodong pertanyaan "Tia udah lahiran?"

Tergesa-gesa? Ih itu lucu banget karena siapapun yang kenal kami cukup dekat pasti tahu bahwa setahun sebelumnya, kami sudah pasang pengumuman lisan di seantero benua bahwa kami akan menikah di tahun 2015. Yang gak tahu ya karena berarti gak cukup dekat aja kenalnya :)

Baca juga
1. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 1
2. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 2
3. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 3
4. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 4
5. Tips Liburan Murah ke Bali bagian 5


Kami nggak marah karena wajar manusia menyukai sensasi, apalagi kalo sensasinya jelek kayak anak orang gak ada angin, gak ada ujan taunya MBA. Apalagi kemudian ilang beberapa waktu alasannya pergi ke luar negeri. Emang agak susah dipercaya sih ya. Tapi, maaf ya kalo saya bikin para biang gosip kecewa, cuman saya nggak nikah karena ada apa-apa duluan kok. Sampe detik ini di setahun pernikahan saya belum juga hamil malah :)


Bagi saya pernikahan begitu membahagiakan hingga saya merasa tidak perlu menundanya begitu kandidat telah datang dan sudah sama-sama bersedia berkomitmen. Selepas lulus kuliah, S pun pergi merantau lalu memutuskan untuk melamar saya. Ayah ibu saya pun baik-baik saja dengan ide ini. Mereka sebagaimana orang tua lain yang anaknya akan segera menikah, justru lebih berkonsentrasi memikirkan hal-hal seremonial yang jamak menjadi tetek bengek perkawinan. "Gimana nanti resepsimu?" "Aku perlu siap uang berapa?" "Kamu mau di gedung anu gak, soale aku dapat diskon?" ---adalah segelintir pertanyaan yang diajukan ayah saya ketika omongan tentang perkawinan mulai santer terdengar di rumah.



Saya adalah anak perempuan sulung. Mudah bagi saya untuk berempati pada kedua orang tua saya yang merasa punya kewajiban untuk menikahkan anak sulungnya dengan layak --dan dengan layak yang dimaksud tampaknya adalah menyelenggarakan pernikahan yang pantas dalam skala mereka sebagaimana orang memandang (whatever it means). Tapi, bagaikan ucapan Shakespeare dalam Hamlet, saya banyak meragukan hal-hal di sekitar saya. Perlukah saya menikah dengan resepsi mahadaya? Perlukah kami mengundang orang berpesta sementara saya dan S pun masih tertatih menapaki jalan baru yang kali ini hanya kami berdua pelakunya? Lebih-lebih saat itu, S hanya punya 3 hari untuk kembali ke Malang sehingga semua waktu persiapan menjadi sangat mepet untuk mengorganisasi resepsi besar. Di lain sisi, saya pun sebagaimana gadis-gadis 90an produk Disney, barang tentu punya bayangan akan pernikahan impian di mana saya memakai baju putih panjang bertabur kristal di suatu gedung megah sambil memutar lagu Beautiful in White. Ibu saya sudah lama mengumpulkan kartu-kartu undangan yang diperolehnya, kalau-kalau nanti kami tertarik pada salah satu desainnya. Ayah saya apalagi, akhir-akhir itu bekerja sangat keras dan entah main-main atau serius, sering sekali mengatakan "untuk nambah-nambah uang resepsimu"



Tapi sungguh saya dan S memang kadang suka keterlaluan dalam mendobrak batas. Saya tidak anjurkan hal ini untuk dilakukan semua orang --cukup saya dan orang-orang yang setuju saja yang melakukannya. Bukan hanya saya bersedia pasang badan untuk berargumen dengan ibu serta nenek-nenek saya perihal penolakan keras saya untuk menikah "dengan tanggal yang baik" (masih ada gak sih yang percaya gituan di tahun 2016 ini?), saya juga berusaha meyakinkan orangtua saya bahwa, 'ayolaaah...buat apa sih kita diperbudak terus sama tradisi? Sekali-kali perlu kita paksa tradisi untuk manut pada logika kita'.

Percayalah, tidak selalu mudah untuk membuat orangtua kita setuju pada tindakan se-abnormal itu. Mungkin saya perempuan pertama dalam keluarga besar kami yang pernah punya ide sebandel itu. Tapi saya sangat mengapresiasi bagaimana orangtua saya lalu membuka pikiran lebar-lebar dan bersedia menampung usul saya yang tidak umum itu.


Melihat ayah saya di ambang setuju di detik-detik terakhir, banyak kemudian orang yang lalu me-negasi pemikiran kami. Yang dijadikan argumen tentu saja posisi ayah saya yang saat ini sedang bagus (whatever it means) dan bahwa saya meletakkan ayah saya di tempat yang buruk dengan memaksanya mengadakan pernikahan untuk anak sulung yang terlalu apa adanya (whatever it means).

Ketika suasana hati saya sedang baik, saya akan coba menjelaskan bahwa saya ingin pernikahan kami nyaman dari awal sampai akhir. Berpesta seharian yang biayanya bisa jadi setara mobil baru, hanya demi meninggalkan semua itu keesokan harinya untuk mengejar penerbangan ke Perth tentu tidak akan membuat saya nyaman secara fisik dan mental.

Tapi memang beberapa waktu menjelang pernikahan, suasana hati saya memang tidak terlalu baik (insomnia menahun, Jakarta-Bekasi-Malang pp, visa, foto thorax, KUA, semua urusan tiket domestik/internasional, dan begitu banyak hal lain yang harus saya pikirkan sendirian) sehingga kadang respon saya bisa jadi agak menjengkelkan. Jika ada yang membawa-bawa jabatan lagi untuk membuat saya berubah pikiran, besar kemungkinan jawaban saya akan semacam "Ah bagus dong kalo orang sudah tau kondisinya begitu, jadi kalo gak ada resepsi kan kita gak akan dituduh kurang uang". Kasar. Sejadi-jadinya. Saya tahu itu.

Saya mohon maaf atas kekasaran saya waktu itu.

Nabi kita yang mulia bersabda agar orang yang menikah/menikahkan orang lain mengadakan pesta walaupun hanya dengan memotong seekor kambing. Kami tentulah tidak ingin mengabaikan sama sekali anjuran seelok itu. Bagaimanapun, pernikahan kami adalah pernikahan baik-baik yang ingin kami kabarkan pada semua orang, bukannya kami tutup-tutupi. Maka, pada saat akad itu kami buat pula syukuran sederhana yang dihadiri tetangga, saudara, kerabat kami serta kolega ayah ibu saya. Kami mungkin tidak tahu rasanya linu-linu selepas resepsi di gedung, tapi mempersiapkan pernikahan dalam waktu sesingkat itu sambil mengurusi hal-hal lainnya saya rasa sudah cukup mewakili.



Memang tidak serta-merta orangtua saya mengubur keinginan untuk membuat resepsi yang lebih baik (whatever it means) bagi kami. Beberapa kali masih mereka berusaha membujuk kami untuk mengadakan pesta besar di bulan Oktober besok, atau mengucapkan kalimat semacam "Batal ya resepsinya? Yaudah bagus, uangnya bisa tak simpen buat beli anu" untuk menggoda kami agar kami berubah pikiran. Bagi kami toh, no way. We're already sooo married now. Rasanya sudah super basi, saya sudah kadung pernah dihamili suami saya, dan palingan juga gitu-gitu aja linunya nyalami ratusan, bahkan ribuan orang di gedung gede manapun (bayangkan saja halal bihalal di lapangan pas masih sekolah).

Bagaimanapun juga, hingga saat ini pun saya masih terpukau atas betapa sehat dan bijaknya orangtua saya menyikapi permintaan nikah tanpa resepsi anak yang dari kecil kelakuannya susah diduga ini. Kami belum tahu bagaimana sesungguhnya perasaan mereka atas hal ini, tapi mudah-mudahan mereka baik-baik aja sama ini semua.

E D I T  B A G I A N  2:

Bahkan sampai di akhir pos, saya gak menjelaskan dengan gamblang ya kenapa saya akhirnya memutuskan untuk menikah tanpa resepsi? Jadi gini, sebelum berangkat ke Oz, sebetulnya kami dan keluarga sudah sepakat untuk mengadakan resepsi di suatu waktu di akhir tahun 2015 atau awal 2016. Kenapa gak langsung aja setelah akad resepsinya? Karena demi Tuhan waktu itu semua tiket pesawat dan hotel sudah dipesan dan dibayar, jadi sayang kan kalo harus hangus karena maksain resepsi saat itu juga. Konyolnya kemudian setelah hidup berdua sama S, kami tiba-tiba berubah pikiran dan males ribet lagi pesta-pestaan untuk pernikahan yang bahkan udah sah berbulan-bulan lalu. Saya dan S ini prinsipnya jangan mau ribet kalo bisa santai. Terus mau ngulang lagi gitu urusan ngubungin katering, cari penjahit sama cari perias? Makasih, tapi dari pada gitu saya pilih tidur siang aja. Ih tapi jangan dikira orang tua saya gak heboh banget tiap minta supaya mereka bisa bikin resepsi untuk kami ya: HEBOHNYA UDAH AMPUN-AMPUNAN sampe pantes diketik pake huruf kapital semua. Cuman hmm gak deh. Gak ada efeknya juga mau resepsian atau engga, karena tetep aja saya insomnia dari 2006: udah 10 tahun gak sembuh-sembuh. Pffftt.

E D I T  B A G I A N  3
Tulisan ini memang bisa bikin interpretasi macam-macam ya. Saya bukannya antiresepsi loh. Resepsi besar itu baik, tanpa resepsi besar juga baik. Janganlah tulisan ini dianggap sebagai saya menolak ide di balik resepsi besar orang lain. If you like it, go for it. Seandainya waktu itu saya tidak dikejar tiket untuk segera terbang ke Ostrali, saya pasti sudah resepsian saat itu juga setelah akad. Tapi kondisinya gak memungkinkan saat itu, dan di saat orang tua saya menagih resepsi ketika saya balik ke kampung halaman, ternyata saya dan suami kadung males repot. Jadi, anggaplah tulisan ini sebagai cerita behind the scene orang yang nikah tanpa resepsi besar, bukannya cerita tentang orang yang kampanye antiresepsi. Ok ok ok? Thank you...

My 25 Before 25

Karena blogwalking dan lihat pos-pos orang yang bikin daftar 25 Before 25, saya jadi pengen juga buat. Semenjak menikah saya jadi banyak bikin rencana (walaupun banyak juga yang gak pernah dikerjakan hehe), jadi kenapa gak sekalian aja pajang daftar 25 cita-cita saya sebelum umur 25 di blog? Nothing too fancy here, kan semua juga pada tau lah gimana kondisi moneter saya #nangiskejer. Saya punya waktu 11 bulan sebelum resmi jadi mbak-mbak 25 tahun. Yang habis baca pos ini siapa tahu ada yang terinspirasi atau malah mau mbayari hohoho.

DIEDIT 24 Agustus 2016 

  1. Bisnis sembako Dari kecil dibilang gak punya darah dagang jadi pengen membuktikan bahwa yang namanya dagang, sebagaimana ilmu lain, datangnya sebab dipelajari bukan diturunkan. Realisasi: Gak kejadian. Sekali karirku jualan adalah ketika jualan coklat dari ostrali dan masih males mau jual-jualan lagi. Apakah ini yang dinamakan tidak berbakat? -_-
  2.  Ikut tantangan 30 hari menulis di blog Biar gak dibilang blogger musiman (walaupun emang iya) Realisasi: Boro-boro cyin, sekali sebulan juga belum selalu jalan
  3. Mengubah gaya tulisan alay jadi tulisan halus kayak kakek nenek Bosen punya tulisan berfont comic sans terus--gak ada seni-seninya. Mulai sekarang, saya galakkan lagi nulis tegak bersambung biar kayak orang lawas.
    kayak gini
  4. Menutup aurat beneran, pake kaos kaki dan daleman sampe pergelangan tangan Pindah ke sini gak makin bener malah makin sering buka kerudung. Kudu mulai giat lagi meluruskan hati untuk menutup aurat. Realisasi: Alhamdulillah udah di jalan yang benar, cuman kaki aja yang masih sering nongol #istighfar
  5. Mendonasikan 25 potong pakaian bagus Selama ini hanya mendonasikan baju yang udah gak suka/kekecilan/kegedean. Mulai sekarang harus meluruskan niat dalam berderma: hanya berikan apa yang saya sendiri mau make dan masih sayang.
  6. Reuni sama keluarga besar Udah setengah tahun lebih gak pernah ketemu. Harus meluangkan waktu dan mengorganisasi reuni akbar. Realisasi: Udah sih ketemu keluarga besar, tapi bukan atas nama reuni.
  7. Naik roller coaster 180 derajat Pengen mengalahkan rasa takut! (padahal ke toilet siang bolong juga minta ditemenin) Realisasi: Nihil!
  8. Menginap di hotel bintang lima Dua taun lalu pernah nginep di The Grand Hyatt Nusa Dua, tapi itu karena dibayarin kantor dan pas belom menikah. Sekarang pengen nginep di tempat yang agak berkelas sama suami. Pengen tau aja rasanya. Realisasi: Cuman kesapaian di bintang empat liburan natal Desember tahun lalu. Mehong cyin -_-
  9. Candle light dinner di hotel bintang lima juga. Gak mau yang abal-abal #ditaboksegepokduit #recehan. Realisasi: Omong kosong
    adek maunya yang begini bang
  10. Pergi ke benua lain entah Eropa, Amerika atau Afrika. Bukan buat apa-apa, cuman pengen aja. Realisasi: Belom, lupa paspor pada mati begini. Ke Tulungagung takziyah gak nginep aja udah berasa jauh banget.
  11. Foto sama artis biar lebih greget sense of alay nya. Lebih afdol kalo pake minta tanda tangan. Realisasi: tahun ini saya ketemu banyak seleb di bandara, termasuk KAK LOLI dan PIPI ANANG! Gadeh, gedean malu sama norak ternyata hamdan lillah.
  12.  Arung jeram udah puluhan kali diajakin temen, udah puluhan kali nolak. Kali ini harus kesampaian. Realisasi: belom
  13. Masak menu yang berbeda selama sebulan penuh masa sejak nikah yang dimasak muter-muter di steak, sayap ayam aneka rupa, nasi goreng, tumis sayur... gitu terus kayak gadis tak bertalenta T_T Realisasi: Nol kosong
  14. Naik gunung Selama ini gak pernah tertarik karena males dingin, sekarang harus nyoba karena udah ada yang bisa dipeluk #kemudiandisensorKPI Realisasi: belom, gunung pada ditutup sekarang mah
  15. Belajar (lagi) bahasa Mandarin sampe lancar Gak ada alasan tertentu, cuman pengen menghayati akar aja. Realisasi: wopucetao
  16. Mewarnai rambut ungu Gak ada alasan tertentu juga: cuman sekedar pengen tau rasanya. Realisasi: Udah, dan udah luntur juga jadi warna lain oh please deh
  17. Mencapai 500.000 pembaca blog Kayaknya agak susah, secara juga bukan blogger hits dan nulis juga musiman aja pas mood enak, tapi gak ada salahnya juga sih punya keinginan Realisasi: Terakhir dicek kira-kira cuman 18ribuan wkwkwk
  18. Pedicure Seumur-umur belum pernah pedicure serius yang serba steril gitu. Mumpung jempol lagi kapalan. Realisasi: ohoho aku tidak punya kapalan lagi sekarang
  19. Menaikkan berat badan hingga 52kg Kirain baju yang melar, tapi ternyata di sini berat badan yang tinggal 43kg--turun 5 kilo dari berat asal. Kudu naik 9kg supaya bisa melakukan target di nomer 25. Realisasi: udah di 50kg, kurang 2 kilo lagi!
  20. Naik Garuda Indonesia Seumur-umur baru 2x naik Garuda Indonesia. Itupun ekonomi, dibayarin kantor juga. Sekali-kali lah pengen foto sayap biru, jangan merah mulu. Realisasi: setaun ini cuman 2 kali saya terbang, yang satu pake putih tukang ngaret, satunya lagi pake si merah murah meriah wkwk
  21. Ngelaser flek-flek di muka Sebelum semua terlambat kayak ibu saya. Sejak nikah ini jadi muncul beberapa freckles coklat yang gak imut di bawah-bawah mata, padahal udah relijius banget make sunscreen nya. Realisasi: akan segera, sementara masih di fase priming kulit. Mudah-mudahan sebulan lagi.
  22. Naik vespa Murni pengen tau rasanya ngangkang pas dibonceng. Realisasi: Gak ada vespa yang bisa dipinjem. Seminggu lalu lewat rumah suami yang dikontrakin dan lihat ada vespa tapi ya ampun malu kali mau minjem. Alesannya apa? Biar trendy gitu?
    atau gini aja deh kalo gak boleh ngangkang
  23. Nemu penjual STP dan bikin bakso sendiri sedandang penuh Googling gih yang gak tau STP. Lagi males jelasin panjang lebar nih hahahah... Pokoknya begitu mudik harus banget wajib makan bakso sedandang. Udah berbulan-bulan gak makan bakso rasanya separuh jiwaku pergi. Realisasi: belom. Sebetulnya di Malang ini kalo kita menggilingkan daging di tukang giling, secara otomatis dia akan nambahin bumbu dan STP dalam dagingnya, tapi saya inget cerita tante saya yang ngegilingin daging murni dan balik-balik malah kecampur paruh dan ceker ayam dalam adonannya.
  24. Menanam rosemary, basil dan ketumbar di Malang yang pertama untuk bikin steak, yang kedua untuk bikin pizza dan yang ketiga untuk digado aja pake ayam goreng sumpah surgawi banget rasanya. Realisasi: Masa nih ya, saya kan nanem ketumbar di pot depan rumah, tapi beneran wallahi yang tumbuh malah cabe coba!
  25.  Donor darah Golongan darah saya kabarnya langka di Malang. Kasian yang pada nyari. Selama ini bukannya pelit sih, tapi saya hipotensi dan kurang berat juga. Realisasi: belom, tunggu tensi naik dan berat badan normal dulu.
Udah, itu aja. Pada dangkal semua gak sih cita-cita saya?

Sunday, September 20, 2015

Membangun Rumah Tangga Sakinah

Judulnya kok gitu banget ya? Mringis dulu deh sambil elus-elus pala botak. Salam super!

Sebelum menikah, saya dan S adalah jenis pasangan yang mungkin bikin gerah kalo kalian kelamaan deket-deket sama kami. Kami beberapa kali bertengkar hebat. Walaupun gak sampai main tangan juga, tapi tetep saja ada intonasi tinggi, kadang kala diselingi fenomena ponsel terbang.

Kemarahan saya pada S sering terpicu oleh hal-hal yang sebetulnya sudah lewat, sedangkan S sering marah pada saya karena hal-hal kecil. Soal skripsi yang rampung terlambat bisa bikin saya marah pada S, padahal juga waktu itu dia sudah diwisuda. Gak kalah konyolnya, cuman masalah kepedesan bikin sambel pun pernah membuat S marah pada saya.

Syukurlah Tuhan Yang Maha Baik masih mau mengingatkan kami yang kekanak-kanakan lagi bodoh ini tentang hal itu. Ya saya tahu ini aneh: tapi sebelum menikah, kami sering sekali terperangkap dalam situasi canggung akibat orang bertengkar. Yang teman kami dibentak oleh pacarnya lah, yang si ini berantem sama si itu lah... Pokoknya banyak sekali pengalaman gak enak gara-gara kami terjebak di tengah dua orang yang marah-marah.

Kami tidak pernah berdiskusi mengenai hal itu lagi. Mungkin kami berdua merasa sama-sama tahu tanpa saling membicarakan. Mungkin juga jarak ribuan kilometer di antara kami selanjutnya yang mengajari kami bahwa hubungan yang kalem adalah hubungan terbaik.

Di hari pernikahan kami, seorang tante saya yang baik mengingatkan saya untuk berdoa bersungguh-sungguh setelah akad selesai dilaksanakan. "Banyak malaikat menyaksikan", katanya, "minta apapun yang kamu inginkan". Lalu saya pun berdoa bersungguh-sungguh kala itu. Bukan harta yang saya minta terutama. Saya hanya meminta agar rumah tangga kami nanti sakinah; penuh ketenangan dan kedamaian.

Mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa perjalanan kami yang baru lima bulan ini sakinah, tapi kami sungguh bersyukur. Tidak pernah sehari pun kami bertengkar: besar maupun kecil. Tidak pernah satu kali pun. Kerikil-kerikil pasti ada di sepanjang jalan, tapi kami selalu menemukan jalan beraspal mulus tampaknya. Emang sih, pernah sekali saya kesal gara-gara saya masak ayam: sudah ayamnya lebih mahal dari biasanya, bumbunya ala-ala India dan saya panggang lama sekali, S menolak makan ayam tersebut. Ayamnya jemek, dia bilang. Pernah pula suatu hari saya membongkar lemari pakaiannya yang mulai penuh, lalu membuangi beberapa baju yang saya anggap sudah tidak layak pakai tanpa sepengetahuannya.

Kami bisa saja marah meraung-raung akibat hal-hal tersebut: saya masak bahkan tanpa sempat mengganti baju kerja saya karena saya ingin S bisa makan siang tepat waktu; S juga bisa saja meneriaki saya karena beberapa baju yang saya buang ternyata adalah baju-baju yang memiliki cerita emosional yang lekat bagi dia. Tapi, alih-alih marah, saya berikan chicken tandoori itu pada tetangga yang ternyata gembira sekali memakannya. S pun begitu: dia hanya bilang bahwa lain kali saya perlu memberi tahu dia sebelum membuang pakaian apapun.

Ada orang yang bilang hubungan kami ini tidak sehat hanya karena kami tidak pernah berdebat. Bukan saja kami anggap idenya tidak brilian: kami juga iba pada pemikiran semacam itu. Bertengkar dalam skala apapun: besar, menengah maupun kecil tidak pernah baik bagi kesehatan mental manusia manapun. Terlepas dari ujung-ujungnya baikan lagi atau malah menjadi bibit dendam, bertengkar hanyalah radikal bebas yang membuat hubunganmu dengan pasanganmu menua lebih cepat, dengan keriput-keriput dan flek-flek hitam yang tidak sedap dipandang: atau didengar. Oleh orang-orang tidak bersalah yang apes karena kebetulan berada di sekitar kalian ketika kalian saling membentak atau menjambak.

Bertengkar memang nikmat sesungguhnya. Saya tahu persis rasanya: seperti membiarkan diri kita terseret oleh arus emosi yang sangat kuat, kemudian untuk sesaat merasa lega. Marah-marah memang mampu membuat kita merasa memiliki otoritas atas orang yang kita marahi. Tapi benarkah begitu? Saya kurang yakin atas kebenarannya, mengingat rasa lega yang kita rasakan hanya sementara sedangkan penyesalan yang datang belakangan malah sering lebih intensif dalam menyiksa batin kita. Sebelum memulai pertengkaran, saya punya usul supaya kita menimbang-nimbang dulu: relakah kita mengorbankan ketenteraman dan kedamaian rumah tangga kita yang hebat (anggap saja hebat, biar lebih sesuai konteks) demi kekacauan temporer yang berpotensi mencederai hubungan kita secara permanen?

Dalam hubungan dua orang manusia fana yang bahkan saling mengasihi, saya yakin tidak pernah ada kesempurnaan. Karena sudah sama-sama mau dinikahi, boleh kan diasumsikan bahwa dua orang tersebut sudah tahu sama tahu tentang kekurangan masing-masing dan ikhlas menerima apa adanya? Mekanisme sakinah sangat sederhana sebetulnya: suck up your pride and discuss like grownups. Tidak perlu saling mendebat apalagi meneriaki. Yang namanya feedback kan bisa diberikan dengan kata-kata yang lemah, walau saya tetap usul agar kita membenahi diri sendiri dulu sebelum teliti mengobservasi cela orang lain.

Dan sedikit cerita saja: akhir-akhir ini Markonah dan Markucel (maaf atas referensi Jawa Pos saya: coba baca cerita tentang mereka di pos ini) sering sekali ribut. Karena kamar mereka berseberangan dengan kamar kami, jelas dong kami bisa denger dengan jelas teriakan-teriakan Markonah dan suara tabokan yang dia layangkan pada suaminya hingga akhirnya dia minggat ke rumah sepupunya minta dijemput di tengah malam buta seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Aib tetaplah aib dan kami pun menyayangkan kejadian itu, tapi kami tidak bisa mengabaikan bagaimana orang-orang lain di rumah ini terimbas oleh tingkah polah mereka: terganggu waktu tidurnya, kesal dan menyumpahi mereka dengan buruk.

Rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh pertengkaran orang lain memang sangat besar hingga kami akhirnya sampai pada kesimpulan: Tidak ada seorangpun yang tertarik pada masalah kita. Tidak perlu makanya kita bertengkar dan tampak di depan mata orang lain karena sesungguhnya they don't give a sh*t atas apapun yang terjadi pada kita. Jadi jika lain kali (ketok-ketok meja, naudzubillahi min dzaalik) kami betul-betul kesal pada satu sama lain, semoga kami tetap ingat akan hal itu sehingga terhindar dari mempermalukan diri sendiri dan menghancurkan kedamaian yang susah payah kami bangun dalam rumah tangga seumur jagung ini :))

Salam super lagi!

Tulisan ini adalah hadiah pernikahan untuk dua orang kawanku yang baru saja menikah dan yang akan segera menikah. Yang baru saja menikah adalah orang yang memberitahu saya arti kata "sakinah" --yang ternyata berakar dari kata sukun (=ketenangan; kedamaian) dalam Bahasa Arab. Semoga rumah tanggamu sakinah pula, Kawan!
Yang akan segera menikah adalah Riza dan Bang Reza. Dari namanya aja udah ketauan kan kalo cocok. Suit suiiiiit!

Saturday, September 19, 2015

Apakah Arti Eksotis?

Pada geli gak kalo ada temen atau baca-baca di mana gitu tentang orang Indonesia berkulit sawo matang yang pengen berjemur supaya kelihatan EKSOTIS? Punya kulit sawo matang itu anugerah. Suka sama kulit gelap gak dosa. Bahkan berjemur juga sah-sah saja. Terus apa yang bikin geli? Ya bagian ngomong EKSOTISnya itu loh yang salah sasaran.

Coba yuk kita cek lagi definisi eksotis dalam kamus kita. Yang gak punya kamus, ah tenang aja: bisa nyontek dari google kok dengan memasukkan kata kunci "exotic means":

nanti hasilnya akan muncul begini:































Nah, yuk coba kita lihat dan terjemahkan arti eksotis yang sesungguhnya.

1. berasal atau memiliki karakter dari negeri asing yang jauh
  • menarik atau mengejutkan karena berwarna-warni atau tidak lumrah
  • berasal dari jenis yang tidak digunakan untuk tujuan umum atau tidak biasa ditemui
Asal kata:
berakar dari bahasa Yunani exo yang berarti luar -- berkembang menjadi exoticos yang berarti asing -- lalu menurun ke bahasa Latin exotic
Dari terjemahan itu udah mulai ada titik terang kan kenapa kata eksotis gak bisa digunakan untuk menggambarkan orang Indonesia pada sesama orang Indonesia? Mari kita lihat lagi definisinya.

Eksotis = bersifat asing.
Kulit sawo matang = banyak banget jumlahnya di Indonesia

Eksotis kulit sawo matang

Sebagaimana salah kaprah yang lain, penggunaan kata eksotis juga banyak dilakukan oleh media dalam mendeskripsikan perempuan Indonesia, terutama selebritis, berkulit gelap yang tidak berusaha mencerahkan warna kulitnya dengan suntik maupun cara lainnya. Nih coba liat.

But two wrongs don't make it right



































dan kalo salah yang begitu ya jangan ditiru.

Yuk daripada bingung mending kita buat tanya jawab hipotetikal soal penggunaan kata eksotis ini:

1. Betulkah Anggun dan perempuan-perempuan sawo matang Indonesia lain memiliki tampilan dan kulit eksotis?

Betul dong, tapiiiiiiiiii... cuman dari sudut pandang orang asing yang penampilan fisik dan warna kulitnya tidak seperti orang Indonesia kebanyakan. Anggun sih memang eksotis, tapi itu kalo kita pake standar tetangga-tetangganya di Prancis.
2. Ih kok gitu?
Ya iyalah. Coba lihat lagi definisinya. Eksotis = tampak (orang) asing. Lha wong yang kulitnya sewarna sama Anggun itu di Indonesia jumlahnya ratusan juta orang. Terus yang sawo matang merasa eksotis dari mana? Berapa persen sih orang Indonesia yang kulitnya sangat terang/sangat gelap sampai terlihat seperti orang asing ketika berbaur dengan sesamanya di Indonesia? Saya yakin jumlah mereka sedikit sekali. Mayoritas orang Indonesia dilahirkan berwarna kuning langsat hingga sawo matang, yang mana warna-warna tersebut tidak terlalu kontras dan tidak cukup ekstrem untuk bisa disebut eksotis di Indonesia.
3. Berarti kalo kulitku sawo matang, aku gak eksotis dong Kak?
Enggak, kamu nggak eksotis kalo menurut standar orang Indonesia. Gimana bisa kamu ngaku-ngaku "memiliki karakter dari negeri asing yang jauh" kalo ratusan juta orang saudaramu di negeri ini  punya tampilan warna kulit yang beti-beti sama dirimu
4. Tapi aku pengen banget jadi eksotis Kak!
Supaya kamu dibilang eksotis, kamu sepertinya perlu:
a. masuk ke lingkungan orang asing yang secara fisik sangat berbeda dari kamu (misal kamu Jawa, ya main aja sama bule atau orang Somalia) atau
b. dandan pakai rumbai-rumbai ijuk dan rok ijo stabilo supaya kamu masuk ke dalam definisi eksotis yang satunya --> (attractive or striking because colorful or out of the ordinary)
5. Kok Kakak nyinyirin orang-orang eksotis sih? Iri ya?
Apakah saya punya alasan untuk iri? Warna dan tampilan saya semacam kayak orang Indonesia lain. Alhamdulillah ukhti, kalo ana pernah iri terhadap sesuatu, mungkin hanya suatu kala ketika ana melihat isteri-isteri soleha yang selalu taat dan patuh pada perintah Tuhan dan suaminya... #diuncalno

Fiuuhhh akhirnya kelar juga curhat pengganjal hati nan eksotis. Yaudah deh, mau masakin suami dulu. Eh ngiklan lagi, kalo mau tau update kehidupan saya dalam gambar, boleh lah tengok akun instagram saya @amaliasardjono. Sambil difollow ya! Saya jenis orang yang kalo difollow langsung follow balik kok biarpun gak diminta. #fakirfollow. edit: berhubung banyak foto-foto yang saya ambil di jaman jahiliyah dulu belom dihapus, lupakan iklan saya soal follow ig hehehe.

My Life Update

Hi folks! Sorry for having been MIA for a while!
Been busy here, mostly working and napping hehe. Now I'm thinking about writing the rest of his post in Bahasa or in English because I'm trying to block some people from knowing what I've been up to while at the same time I need others to keep up LOL. So yeah Bahasa, that is.

1. Ada orang baru yang pindah ke rumah
Sebelumnya hanya ada lima orang di rumah: S dan saya, sepasang lesbian Hongkong yang sangat murah hati dan laki-laki penjaga rumah yang sering merasakan kemurahan hati mereka: sebut saja Markucel, 36 tahun. Markucel yang mengaku duda 3x dan mempunyai bayi berumur 6 bulan dicomblangi oleh istri bosnya sama seorang gadis Tiongkok utara yang bernama Markonah, 29 tahun. (duh sorry banget deh atas referensi Jawa Pos yang kelewat jelata. Kangen tauk udah beberapa bulan gak baca itu!) Setelah chatting-chatting dari pagi sampai malam, di minggu ke 8 Markucel memutuskan untuk pulang ke Tiongkok dan menikahi  Markonah. Singkat cerita, Markonah yang berwajah mirip Asri Welas versi Asia Timur ini pun diboyong ke Geraldton walaupun tidak bisa berbahasa Inggris. Dua orang lovey dovey itu pun hidup bersama walau baru kenal dua bulan. Markonah terbukti mampu mengubah Markucel yang sebelumnya sangat frugal. Jika sebelumya Markucel hanya makan makanan yang didapat dari restoran tempatnya bekerja, kini Markucel tahu nikmatnya ngemil anggur dan granola bar malam-malam. Jika sebelumnya kulkas Markucel kosong melompong, kini kulkas kami pun ikut kesumpelan bahan-bahan makanan eksotis* sebangsa akar teratai beku, acar rebung maupun tulang belulang babi.

2. Berkali-kali masuk angin
Spring datang terlambat tahun ini, kata banyak orang. Memasuki bulan September, seharusnya suhu udara mulai naik pelan-pelan. Tapi enggak, seminggu pertama bulan ini masih dingin banget. Minggu kedua barulah kami kegerahan sambil kibas-kibas ketek yang keringetan dan serius lah panasnya gak becanda. Suhu di luar rumah mungkin sekitar 30 derajat --bisa jadi lebih panas dari kampung halaman saya di Tlogomas karena Malang selalu berawan, sedangkan langit Geraldton biru sejadi-jadinya kayak layar tivi lawas kalo dipencet AV. Mobil kami rusak pula pendingin udaranya, so expect getting in feeling like you habis diababi naga. Sementara itu, hampir tiap siang S dan saya kerajingan belanja di Coles yang mana aisle nya dingin banget kayak mantanmu waktu minta putus. Tiap keluar dari Coles, S dan saya kayak balapan, dulu-duluan mengucapkan kalimat itu...

"Aduh aku kok pusing ya..."

Lalu malamnya kami ditemukan teronggok gak berguna di kamar, saling mengerok leher dan punggung satu sama lain. Di rumah kami yang isinya orang Asia yang tau semua soal kerokan, gak akan ada yang nanya kenapa leher kami bisa ungu-ungu gitu. Pandangan mata penuh tanda tanya dan dugaan cabul mulai dialamatkan ketika kami kerja, atau belanja, atau apalah yang melibatkan ketemu bule. Kemungkinan tersopan: ditanya "Are you alright?" dengan wajah penuh kekhawatiran. Kemungkinan tertidaksopan: dituduh "Is that hickey?" sambil senyum-senyum mesum.

3. Too much of everything is never good
Saya denger kabarnya untuk hidup jadi karnivora di Indonesia sekarang mahal biayanya. Daging tiba-tiba langka dan harganya meroket. Tukang bakso mungkin bisa mempertimbangkan untuk pindah ke Ostrali aja. Di sini daging murah pake banget dan suami saya ternyata suka sekali sama steak ngaco buatan saya (yang bumbu perendamnya melibatkan jus kiwi dan rosemary yang dapet dari iseng mrunthes di depan kantor polisi di Marine Terrace--murni iseng dan gak ada niat vandalisme walau sejatinya juga kami punya tanaman rosemary di belakang rumah). Dua minggu terakhir itu jadilah diet kami hanya muter di sekitaran steak rare, medium dan welldone. Sekitar 3 hari lalu, saya masak sekilo daging dan habis saat itu juga. Malemnya saya mulai sendawa-sendawa terus --dan sendawanya itu bikin saya mual karena ada hint aroma rosemary dan daging dan tumis timun dan kentang tumbuk yang saya makan sebelumnya. Kira-kira tengah malam saya mulai huek huek tidak terkendali di toilet dan keluar semua jejak ketamakan makan malam saya waktu itu. Berwajah pucet pasi dan ingusnya beleleran, saya malah dituduh hamil sama S -___-

4. Mimpi Buruk kayak adegan sinetron itu ada
Pada masih inget kan adegan Bella Swan yang mimpi buruk teringat si vampir ganteng terus bangun kaget sambil teriak histeris? Kalian pikir itu cuman film? Kalian pikir gak mungkin orang bisa sedramatis itu kalo mimpi buruk? Semalam sebelum tragedi kebanyakan makan steak, hal itu terjadi sama saya. Jadi ceritanya kamar kami ini gelap gulita banget kalo lampunya dimatiin karena bener-bener gak ada sumber cahaya lain dari dalam maupun luar rumah. Malem itu sumpah dingin banget sampe saya susah tidur. S sih udah ngorok duluan. Sejam dua jam akhirnya saya ngantuk juga dan S terbangun lalu nyelimuti saya dobel pake 2 helai selimut karena males nyalain pemanas ruangan. Nah, saya gak tau beberapa menit, atau bahkan berapa jam setelah saya diselimuti itu, yang jelas dalam tidur, saya merasa berada di bawah lapisan kain ketat dan gelap dan saya gak bisa menemukan jalan keluar dari dalam situ. Lama-lama saya merasa tercekik dan gak bisa nafas sampe akhirnya saya teriak manggil suami saya untuk menyelamatkan saya. Pada bagian itu ternyata saya gak cuman teriak dalam mimpi, tapi teriak beneran. S langsung bangun dengan panik lalu melepas selimut yang saya pakai. Saya pernah mimpi mati, dikejar setan bahkan kehimpit kapal sandar sebelumnya; tapi gak ada yang semengerikan ini. Rasa tercekiknya bener-bener nyata dan saya pun bangun dalam kondisi ngos-ngosan. Paling sialnya, S bilang pas saya bangun itu dia merasa dilewati bayangan besar yang lebih gelap dari kegelapan kamar kami yang udah gelap itu. Padahal serius deh saya gak pernah lupa berdoa sebelum tidur. Moral cerita? Gak ada. Cuman sekarang saya gak pernah lagi ke kamar mandi sendirian biarpun di siang bolong. 



Saturday, August 29, 2015

Bahasa Australia

Bahasa itu suka-suka pemakainya sih ya. Sama-sama berbahasa Inggris, belum tentu juga semua orang ngerti tanpa mengernyitkan jidat. Lha wong saya yang orang Malang kadang denger temen saya yang orang Gresik atau Surabaya ngobrol aja bisa gak paham, apalagi ini orang-orang yang walaupun sama-sama berbahasa Inggris, tapi terpisah benua nun jauh di sana.
Saya nggak tau ya orang lain gimana, tapi saya menganggap diri saya keracunan logam berat Hollywood yang (insya Allah) ditandai dengan kemampuan menonton film Amerika tanpa subtitle dari awal sampe akhir. Tapi, hari pertama saya masuk bandara Perth, selain gegar karena di sini pemeriksaan bagasi dilakukan oleh ANJING HIDUP, saya juga gegar karena...nggg saya gak paham blas bule-bule di bagian imigrasinya ngomong apa.

Kalian tau kan dulu di sekolah gimana kita diajarin ngomong Hello? Orang sini tuh ngomong hello rada-rada berbunyi helloy tau gak. No juga jadi berbunyi noy. Itu baru dua kata ya. Bayangin kalo mereka ngomong satu kalimat, satu paragraf, apalagi ceramah...

Prasaan dulu kuliah juga gak bodo-bodo amat padahal T___T

Butuh beberapa waktu bagi kuping bolot ini untuk paham apa yang bule-bule itu ucapkan. Sementara belom paham, siapkanlah senyum lebar meyakinkan sambil ngangguk-ngangguk bilang "yeh...yeh..." hehehe.

Sampe sekarang pun kemampuan listening saya masih tingkat anak PAUD deh kayaknya. Jadi ya saya gak jamin informasi yang saya sediakan di daftar ini akurat. Semua cuman berdasar pengalaman saya yang gak banyak dengan latar belakang saya yang berlidah dan berkuping Arema tulen yang selama hidup di dunia banyak mendengar orang misuh hehehe.

1. Arvo: singkatan dari "afternoon". Artinya: siang. Contoh: Hi Esky, are you working this arvo?
2. Bikkie: singkatan dari "biscuit". Artinya: ban dalem truk. Ya enggak lah, artinya biskuit juga.
3. Brekky: singkatan dari "breakfast". Artinya: sarapan. Ada plangnya di depan Hungry Jacks
4. BYO: singkatan dari Bring Your Own. Ini maksudnya adalah restoran atau kafe yang gak punya izin untuk memperdagangkan minuman beralkohol, jadi mereka mengizinkan para tamunya untuk membawa sendiri bir atau anggurnya masing-masing dengan biaya tertentu. Lawannya adalah licensed restaurants/cafes. Untuk bisa kerja di tempat-tempat yang berlisensi alkohol, kalian harus punya sertifikat RSA (Responsible Service of Alcohol)

5. Capsicum: artinya paprika. Orang Amerika bilangnya pepper. Contoh: "What is inside this Mongolian Lamb dish?" "It's lamb and capsicum"
6. Chips: artinya kentang goreng. Orang Amerika bilangnya fries. Pernah suatu hari saya ngobrol sama temen saya Fima yang waktu itu ada di New York soal makanan-makanan halal. Kira-kira percakapannya gini.
Saya: "Di sana ada fish and chips gitu gak sih, Fim?"
Fima: "Banyak kok ikan sama keripik di sini, Li." :))) #eeeaaa #salah referensi dua-duanyaaaa

photo courtesy of Kate James at http://www.weekendnotes.com/profile/401284/



maksudnya sih yang itu, tapi di Amerika kayaknya benda itu gak populer/beda nama :))

7. Doona: artinya quilt; semacam selimut yang juga berfungsi sebagai sprei kasur. Sebetulnya doona ini merk. Jadi kayak orang kita bilang pasta gigi itu odol gitu. Orang Amerika bilang comforter (coba nonton itu 22 Jump Street), orang Inggris bilangnya duvet, atau quilt juga sih.

8. Dummy: artinya dot bayi. Bahasa kamusnya sih kayaknya pacifier deh ya.
9. EFTPOS: nggg ini singkatan dari Electronic Funds Transfer at Points of Sale, artinya pembayaran debit pake ATM itu.. Baca-baca dari internet sih sebetulnya penemunya orang Amerika, tapi dijadiin merek dagang di Australia.

10. Esky: selain nama kecil suami saya, di sini esky berarti kotak pendingin kayak semacam yang dibawa ibu-ibu penjual Yakult keliling itu loh. Yang kepo kenapa saya gak pernah manggil dia pake nama itu adalah karena suami saya ini mukanya keras dan tatoan. Manggil dia Esky rasanya kayak manggil Agung Hercules...Bubu, misalnya.

Masa orang yang bodinya benjol-benjol begini namanya Bubu? Ini fotonya dari wikipedianya ya




11. Flat white: artinya kopi yang separuh espreso, separuh foam susu.
12. "Hay?" "Hey?": adalah cara orang sini untuk ngomong "ha?" atau "he?" ketika gak denger jelas apa yang diucapkan lawan bicaranya.
13. Heaps: artinya banyak. Contoh kalimat: "We got heaps of expired Fanta from the supplier"
14. Hungry Jacks: di Australia, karena alasan-alasan tertentu Burger King berubah nama. Jualannya sih tetep Whopper (disini dilafalkan wopah) dan teman-temannya. Yang pengen kepo lebih lanjut, baca informasi wikipedianya aja ya.

14b. Kindy: artinya TK alias kindergarten. Contoh kalimat: Kids start going to kindy at 4.

15. Kiwi: artinya orang New Zealand. Kami tinggal sama satu orang Kiwi saat ini ngomong-ngomong. Ibunya orang Inggris dan bapaknya Maori. Kulitnya gelap tapi matanya biru.
16. Lemon Lime and Bitters: Semacam minuman yang aslinya beralkohol yang dibuat dari lemonade, cordial dan Angostura bitters plus irisan lemon. Versi non alkoholnya dibuat dari lemonade (merk Schweppes/Kirks/Sprite) dan cordial sama irisan lemon aja. Rasanya? Pait. Ini informasi wikipedianya.

16b. Loo: artinya toilet. Tau ini gara-gara beberapa hari lalu ada ibu-ibu tau-tau markir mobil depan rumah terus minta numpang ke loo -___-
17. Man's Shed: artinya semacam bangunan di belakang rumah yang terpisah dari rumah induk dan umumnya disewakan untuk tempat tinggal. Tapi gak melulu gitu sih, soalnya di kawasan anak backpacker di Foreshore Drive, ada juga man's shed yang berupa bangunan gedung gitu.

18. Nappy: artinya popok, mungkin disingkat dari napkin. Bahasa kamusnya sih diaper kali.
19. No worries: adalah jawaban dari ucapan "Thank you". Versi Cinta Lauranya adalah "No problem"
20. Power point: artinya colokan listrik.
21. Pram: artinya kereta dorong bayi. Bahasa kamusnya mungkin stroller ya.
22. Reckon: adalah kata kerja yang artinya semacam guess, think.
Contoh: "I reckon she's very pretty" ("Menurut aku sih dia cakep banget") 
              "Oh you reckon?" ("oh gitu/masa sih?" dalam arti positif dan gak ngejek)

23. Rego: singkatan dari (car) registration; semacam biaya STNK gitu kalo di Indonesia.
24. RSA: (sertifikasi) Responsible Service of Alcohol adalah sebuah sertifikasi yang memastikan kalian tahu batasan-batasan dalam penjualan minuman beralkohol. Sertifikatnya bisa diperoleh online dan pasti akan berguna kalo kalian pengen kerja di sektor hospitality di Australia. Tapi ya gak semua restoran minta sih. Restoran BYO gak akan minta pegawainya punya ini.

24b: Sick: ini adjektiva yang artinya keren. Saya tahu kata ini dari temen-temen kerja saya, tapi terus lupa karena gak pernah denger ada orang yang bener-bener memakai kata ini dalam percakapan. Tapi terus pas saya lagi kepo instagram makeup artist Indonesia, eh ada yang komentar begini dong. Ternyata yang komen orang Ostrali.

25. Streets (merek): adalah merek es krim yang kita sebut Walls di Indonesia
diambil dari situs unilever Australia
25. Stubbies: artinya bir dalam botol. Merk-merk bir terkenal di Australia antara lain Carlton Dry dan Corona. Di mana-mana ada aja orang minum itu. Koreksi dikit dari Kak Evie Norman, Corona itu buatan Meksiko yaa

26. Sunnies: singkatan sunglasses alias kaca mata hitam. Eh ngomong-ngomong, sekarang saya jadi rajin pake sunnies ini. Coba aja siang-siang di sini nyetir mobil gak pake sunnies, pasti berasa adegan sinetron "AKOH BOTAAAHH"
27. Superfund/superannuation: dana pensiun yang dibayarkan oleh bos kalian di luar gaji yang kalian terima secara rutin yang bisa dicairkan nanti ketika umur kalian 65 atau kalian keluar selamanya dari Australia. Jumlahnya cukup fantastis kalo dihitung sama orang-orang sini: miliaran rupiah.

28. Ta!: artinya thank you. Sangat populer di kalangan balita dan para lansia yang makan di restoran. Kalo orang sini yang ngomong kadang di kuping bolot saya terdengar seperti cha. Biasanya dikombo sama ucapan "Cheers". jadinya "Cheers! Ta!" Artinya? Ya makasih aja gitu. Konon "ta" berasal dari bahasa mami-mami yang ngajarin bayi-bayinya untuk bilang thank you.

29. TAFE: Training and Further Education. Semacam kampus yang menyediakan pendidikan singkat setara diploma untuk banyak disiplin ilmu, dari masak sampe mijet. Kampus yang di Geraldton insya Allah kalo gak salah ketik namanya Durack University.

30. TFN: Tax File Number alias NPWP. Wajib diurus untuk bisa kerja legal, nanti pajaknya dikirim sama bos kalian ke pemerintah. Sebagai penduduk negara kaya, orang-orang sini selalu dapet pajaknya balik di tiap akhir bulan Juni. Uangnya bisa diurus sampe tanggal 31 Oktober tahun tersebut.

31. Uni: singkatan university. Contoh kalimat: "She resigned because she's going to uni." Btw, anak-anak sini agak telat ya masuk kampusnya. Di Indonesia, anak umur 17 biasanya udah kuliah. Di sini, kayaknya umur 19 baru pada ngampus. Tapi ya gak tau lagi sih. Yang tau tolong dikoreksi hehe

Yaa itu aja sih kayanya yang bikin anak kampung kayak saya agak-agak gak ngeh awalnya. Kalo ada yang unik lain, boleh deh ditambahin sendiri hehehe. Udah dulu ah, mau googling resep lodeh lagi. Bubayyy....

Saturday, August 1, 2015

Pengalaman dengan Chemical Pregnancy

Chemical pregnancy? Jangan coba-coba diterjemahkan pake google translate yaa... Chemical pregnancy kayaknya belum ada bahasa Indonesianya nih, jadi jelas bukan hamil kimia.

Aslinya saya juga bingung mau jelasin dari mana, jadi mending saya ceritain awal mulanya aja ya.

Sejak saya pindah ke kota ini bulan pertengahan April, saya merasa banyak banget hal abnormal yang terjadi pada diri saya. Pertama, saya ini agak-agak anemia jadi badan saya dalam kondisi default emang selalu kedinginan. Kedua, saya jarang sekali lapar dan hampir gak pernah makan sampai kenyang. Ketiga, saya insomnia parah dan jarang bisa tidur nyenyak. Tapi, begitu sampai di sini beberapa hari, saya kepanasan! Tangan dan kaki saya selalu kerasa panas jadi saya suka geser-geserin kaki dan tangan di kasur. Plus, saya merasa jadi sering sekali laper. Begitu makan, saya gak akan bisa berhenti sampe kenyang. Selain itu, saya juga jadi gampang capek dan ngantuk. Kalo udah tidur, saya gak akan bisa bangun kecuali udah genap 12 jam tidurnya.

Saya pikir saya cuman kecapean akibat semua urusan nikah dan pindah-pindahan ini. Seperti yang udah sering saya ceritakan, hari pertama kami menikah; hari kedua kami terbang dari Malang ke Bali untuk sekedar honeymoon semalem di Kuta; lalu hari ketiga kami terbang 4 jam dari Bali ke Perth, lalu marathon suami saya nyetir kurang lebih 5 jam dari Perth ke Geraldton.

Setelah seminggu lebih, saya mulai merasakan gejala-gejala PMS seperti sakit di bagian dada, jerawat dan rasa capek yang terus-terusan di pinggang sama kaki saya. Waktu saya cerita sama S, dia bilang saya mungkin mau dapet haid aja. Selama ini haid saya emang gak pernah teratur sih, jadi saya pikir ya mungkin emang PMS. Tapi entah kenapa, saya merasakan dorongan yang besar banget untuk beli alat uji kehamilan. Jadilah beberapa hari kemudian waktu saya belanja berdua sama S, saya ngotot ke apotek untuk beli alat uji kehamilan yang ajubile deh mahalnya. Isi 3 biji harganya $12 masa! Yang mau ke sini dari Indo dan udah nikah, mending siap-siap beli di Indo deh test pack nya.

Pulang-pulang itu, saya langsung dengan semangatnya pipis terus pake alat uji kehamilannya. Semenit dua menit...ih negatif dong! Cuman muncul satu garis di alatnya. Saya seneng banget terus langsung lari ke kamar gak sabar mau ngasih tau S.

Tapi ternyata dunia berkonspirasi melawan kami.

Secara misterius, garis yang awalnya cuman satu, TIBA-TIBA BERUBAH MENJADI DUA DONG.

Sumpah ya, saya langsung merasa bego saat itu juga. Bego dan rabun, tepatnya. Saya yakin banget awalnya cuman satu garis, eh ternyata ada dua! Sampe saya puter-puter bendanya, berharap ada keajaiban ilahiah yang membuat garis satunya bisa turun kayak termometer yang dikocok gitu.

Tetep, garisnya ada di situ. Dua setrip.

S dan saya gak bisa ngomong apa-apa. Kami cuman pandang-pandangan bingung.

Malem itu saya gak bisa tidur. Saya sibuk googling tentang "false positive pregnancy" dan "how do I terminate my pregnancy in WA".

Ya, saya emang yakin banget saya belum mau punya bayi saat itu. Kondisi kami waktu itu betul-betul gembel di mana saya belum kerja dan suami saya baru saja diberhentikan dari tempat kerjanya sampe-sampe untuk beli pregnancy test kit yang $12 itu rasanya kami kayanya bakalan gak makan sampe seminggu ke depan deh. Lebay, yes but thats the truth. Sementara itu, sebetulnya saya masih agak menyangkal bahwa saya hamil karena ya ampun baru juga berapa hari nikah sih, masa uda isi aja. Jadi riset saya tentang "false positive pregnancy" lanjut terus.

Secercah harapan datang ketika saya membaca bahwa sangat mungkin uji kehamilan rumahan memberikan hasil positif yang gak akurat alias "false positive". Baca-baca lebih lanjut juga makin menguatkan harapan saya bahwa meskipun saya sungguh-sungguh hamil, bisa saja saya keguguran karena kelelahan fisik dan mental yang saya alami beberapa hari sebelumnya. Keywords: 25 kilo bagasi, 7 kilo backpack, 3 hari, 4 kota.

Besoknya, karena masih penasaran, saya coba tes lagi begitu saya bangun tidur --berharap semoga yang kemarin cuman tanda positif palsu karena yaa mungkin saja alatnya kerendem urin kelamaan kan hehehe. Tapi ternyata hasilnya masih bergaris dua, cuman bedanya garis yang kedua ini agak lebih samar gitu dibanding yang kemarin. Padahal kan saya ngetesnya pagi-pagi banget, pake urin seger yang katanya mengandung paling banyak hCG alias human chorionic gonadotropin alias hormon kehamilan. Tapi, biarpun samar kaya gitu, S dan saya udah mulai omong-omongan serius banget. Kami jelas belum bisa punya bayi dengan kondisi seperti itu: saya gak pegang asuransi di sini jadi biaya melahirkan pasti selangit, orangtua saya dua-duanya bekerja di Malang jadi gak bisa dititipin, dan yang paling krusial: kondisi ekonomi setara gelandangan waktu itu gak bisa untuk menyokong satu lagi makhluk hidup dalam rumah tangga kami.

Kepala saya cekot-cekot banget. Mana saya tuh bawaannya sensi terus sama suara-suara ribut yah waktu itu. Kayanya denger orang ngomong agak keras tuh udah pengen nge-"ssssttt jangan berisik" aja gitu. Mana ada di tempat asing pula, udah deh lengkap rasa disorientasinya. Waktu itu saya cuman pengen makan makan makan terus tidur mengunci diri di kamar.

Besok harinya, kami udah bulet sama keputusan bahwa kami gak bisa punya bayi ini. Aborsi adalah hal yang legal di Australia Barat dan saya langsung telepon klinik pertama yang saya temukan di mesin pencari. Saya dihubungkan ke nomer obgyn yang paling deket sama wilayah saya tinggal. Sama sekretarisnya, tanpa babibu saya bilang saya mau menterminasi kehamilan. Dia tanya kira-kira berapa minggu saya hamil and I was like hmm probably just a week?

Mbak-mbak di ujung telepon ketawa. Mungkin saya dikira ABG korban pergaulan bebas yang takut-takutan -__- Akhirnya saya dijadwalkan untuk ketemu dr. Pedlow hari itu juga jam 4 sore. Biaya terminasinya flat $500 yang udah mencakup konsultasi dan sonogram. Sebelum berangkat tak lupa saya cek pake test pack untuk yang terakhir kalinya siapa tahu tiba-tiba terjadi mukjizat dan garisnya tiggal satu.

Nope, didn't happen. Saya tetep hamdun.

Jam 3.30 saya berangkat ke kliniknya yang ternyata gak sampe 5 menit dari tempat saya. Antreannya alamakjang panjang banget. Pas registrasi ulang di konter, mbaknya langsung tahu tujuan saya dan ngasih saya berlembar-lembar artikel tentang risiko-risiko aborsi baik yang secara surgical maupun obat-obatan yang wajib saya baca sebelum saya melakukan tindakan. "Cacat rahim, sepsis, kematian..."



Oke suwun salah waktu banget, gak usah dibaca aja. S megangin tangan saya yang berubah jadi dingin lagi and he was like "don't worry we can always try again". Preeett... Laki-laki mah tau apa soal hamdun dan ngerinya orang yang bentar lagi akan menjalani terminasi gara-gara perbuatannya.

Baru sekitar jam 5 kami dipanggil masuk. Saya lupa saya daftar pake nama belakang suami saya jadi pas dipanggil saya dongo. Dokternya sih udah agak tua dan gak pake jas putih gitu. Saya pikir dia juga pasien. But he's a nice person ya. Dia kayanya udah baca report dari mbak sekretarisnya itu soal saya mau "terminating a week pregnancy" dan mukanya kayak nahan ketawa. Saya kasih lihat 3 biji test pack saya yang bergaris dua dan setelah itu dia bilang saya kayaknya bener-bener hamil. Dia juga bilang saya BOLEH buang test pack tersebut di tempat sampah yang dia tuding pake telunjuknya. Secara reflek saya buang benda-benda itu jadi sekarang kalian tahu kenapa gak ada foto test pack di blog ini sebagai bukti kejadian itu benar-benar nyata.

Terus saya dicek pake sonogram. Pas saya udah rebahan dan dokternya ngasih gel di perut saya, gelnya jatuh dong ke sepatu saya di bawah ranjang periksa. Dengan paniknya dokter itu langsung ngangkat sepatu saya dan dia bersihin aja gitu pake tangan telanjang. Saya dan suami saya sampe terpukau -__-

And here we go, akhirnya saya disonogram. Saya jujur aja gak liat apapun kecuali burem-burem item di layar. Kata dokternya sih, emang ada pertumbuhan keciiiil banget di dalem rahim. Because I was really curious when it happened, saya tanya dokternya kira-kira itu umur hamilnya berapa hari. Dan apa coba yang dia bilang? Dia bilang itu 2.5 weeks alias 17 hari and we were just getting married 17 days before! Pas saya bilang kayak gitu ke Pak Pedlow, eh dia ngakak dong. Ngakak kenceng dan lama sambil bilang "yea sometimes that happens".


Terus saya disuruh duduk dan diajak lihat-lihat hapenya yang isinya gambar-gambar janin dari berbagai umur kehamilan. Ini dokter bayarannya gede banget kali ya, bawaannya nyantai pengen jelasin semua gitu. Saya udah gak konsen, saya pengen langsung dapet tindakan. Makin lama di ruangan itu bukannya makin santai, saya cuman makin pusing. Akhirnya saya tanya si Pedlow, kapan nih bro, terminasinya?

To which he replied "I would suggest that we wait"

APPAAAAA??? NUNGGU LAGEEEHHH???
Saya udah berasa keliyengan, pusing mikirin masa depan, badan capek gak karuan dan saya disuruh nunggu. Ketika benda di perut saya masih terasa seperti "sesuatu yang tidak direncanakan", saya bisa dengan mudah minta "dia" diterminasi. Tapi kalo harus nunggu, saya takut perasaan keibuan saya akan muncul dan menimbulkan masalah yang lebih besar seandainya emang kehadirannya harus dibatalkan begini. Nah, I can't wait anymore.

Saya tanya kenapa saya harus nunggu. Dokter itu bilang, pertumbuhan dalam rahim saya masih terlalu kecil dan dini untuk "diapa-apakan". Semua kemungkinan bisa terjadi, dia bilang. Kemungkinan terburuk adalah dua minggu lagi dia akan membesar dan resmi jadi janin kayak gambar-gambar di hape dokter itu...

or else, saya akan dapat haid beberapa waktu lagi jika emang bener dugaan dokter itu bahwa saya saat itu cuman agak hamil karena hasil pembuahannya gak bener-bener nempel di rahim alias cuman CHEMICAL PREGNANCY.

Pas saya googling-googling sebelumnya sih saya sempet baca soal chemical pregnancy. Bahkan, false positive pregnancy yang saya sebut di atas itu dikategorikan chemical pregnancy sama studi ini. Tapi saya gak percaya hal itu bisa terjadi sama saya beneran. Akhirnya, dengan penuh pengharapan, saya setujui saran dr Pedlow untuk menunda terminasi sambil nunggu siapa tau saya cuman beneran agak hamil dan bakalan haid beberapa waktu setelahnya. Perasaan saya agak plong waktu keluar dari ruangan periksa, batal ngeluarin $500 dan cuman kena $136 sebagai biaya sonogram dan konsultasi.



Beberapa hari berlalu dan sore itu adalah hari pertama saya mulai kerja. Saya di kamar mandi bareng S terus tiba-tiba S nunjuk ke lantai.

Dia lihat darah.

And I was like yeaaaayyyy.... Saya gak pernah sebahagia itu ya cuman gara-gara dapet haid. Tapi sumpah, rasanya legaaa banget saya gak jadi hamil. Bukannya saya gak bersyukur ya dikaruniai sesuatu yang sangat besar di hari pertama saya menikah, sementara pasangan-pasangan lain menunggu cukup lama untuk diberi anugerah ini. Saya bersyukur kok, cuman saat ini kondisi belum memungkinkan dan Tuhan jelas tahu yang terbaik.

Oh ya, soal chemical pregnancy sendiri, sejauh yang saya tahu dari baca-baca ya, dia bukan kehamilan di luar rahim (ektopik) ya kalo ada yang mengira gitu (beberapa temen saya sempat ngira gitu). Di artikel NCBI ini, chemical pregnancy disebut sebagai biochemical pregnancy dan didefinisikan sebagai keguguran pada masa sangat awal kehamilan. Hamilnya sih beneran hamil karena sel telur sempat dibuahi sel sperma dan menghasilkan hormon kehamilan hCG yang terdeteksi test pack, tapi kemudian blastosisnya gak tumbuh lagi/gak nempel sehingga kantung kehamilannya gak kelihatan waktu diUSG. Urusan sama hCG alias hormon itu tadi yang menyebabkan istilahnya "chemical" karena kehamilan ini hanya terdeteksi di level kimia. Di artikel yang sama juga disebutkan bahwa 50-60% kehamilan pertama perempuan biasanya berupa chemical pregnancy kaya gini. Bahkan, diperkirakan bahwa 25% wanita hamil gak pernah sadar dirinya mengalami chemical pregnancy karena gugurnya bayinya juga tanpa gejala gitu, cuman keluar darah kaya haid biasa aja. Saya juga waktu itu haidnya biasa aja, gak mules gak berat. Bener-bener kaya haid normal gitu (cuman bedanya udah kadung keluar $136 yang mestinya bisa disimpen seandainya gak panik minta buru-buru terminasi hehehe)

Soal penyebabnya, di artikel itu disebutkan bahwa stres dan kerusakan DNA pada sperma diduga merupakan biang kerok keguguran dini ini. Stres sih iya, tapi ih masa suami saya masih muda gitu bawa sperma rusak? Hehe dugaan saya mungkin akan dimentahkan dr Pedlow dan temen-temennya, tapi saya 99% yakin bahwa kasus chemical pregnancy saya disebabkan oleh hal lain, yaitu: konsumsi after morning pill. Hahahaha... Jadi ceritanya saya kan gak KB ya di awal nikah itu, baru deh pagi-pagi sebelum berangkat ke Bali untuk honeymoon, saya pergi ke apotek minta after morning pill yang paling manjur dan dikasihlah saya yang buatan Eropa lupa negara mana, yang cara kerja obatnya menurut leaflet adalah mencegah terjadinya implantasi zigot ke rahim. Jadi obat itu gak mencegah sel sperma bertemu sel telur. Artinya? Dalam pemahaman saya yang awam ini ya pembuahan jelas terjadi karena saya nikah di tanggal subur, cuman zigotnya gak nempel aja di rahim gitu. Correct me if I am wrong yaa...

Saya lupa cerita ke Pak Pedlow soal saya minum after morning itu tapi sempet cerita ke temen saya yang dokter umum soal chemical pregnancy ini dan dia malah bingung gak pernah denger. Dia bilang itu abortus spontaneous, tapi di artikel yang saya yakini 100% kesahihannya ini, chemical pregnancy dibilang bukan abortus spontaneous. Nih saya quote dikit yah biar kayak skripsi:
"The transient rise in hCG that characterizes a chemical pregnancy is distinct from the widely recognized outcomes of a clinical pregnancy, which include spontaneous and induced abortions, ectopic pregnancy, and delivery."
Walaupun sama-sama keguguran secara misterius, abortus spontan termasuk kehamilan klinis yang artinya telah terjadi implantasi pada rahim, sedangkan pada chemical pregnancy, blastosisnya gak sempat nempel sama sekali di rahim.

Kalo mau baca informasi lengkap tentang chemical pregnancy yang sahih, klik aja link ini.

Ya itu deh pengalaman saya sama chemical pregnancy. Seru banget kan hari pertama nikah langsung hamil terus keguguran gitu aja. God knows best deh emang waktu terbaik untuk semuanya. Makasih udah baca tulisan saya ya... Stay happy, stay healthy and stay protected (yang udah nikah hehehe).